Tantangan Keempat : Cinta Sang Kuri yang Hilang
Cinta Sang Kuri yang Hilang
Oleh Joko Septiono
Pada kali ini saya akan membuat sebuah cerita rakyat yang bersumber pada cerita asal mula Gunung Tangkuban Perahu versi Ayah Jesi di Odop tantangan pekan ke-4. Cerita ini berjudul " Cinta Sang Kuri yang Hilang" yang saya improvisasi dari segi tokoh dan alur dengan kesimpulan mengalami kemiripan.
Pada zaman dahulu ada seorang raja muda yang tampan. Karena ketampanannya itu ia di juluki Sang Kuri atau yang tak bisa tua. Ia juga biasa dikenal dengan raja Sang Kuri. Raja Sang Kuri memiliki seorang permaisuri yang tengah hamil. Raja Sang Kuri merasa bangga dengan kehamilan istrinya karena berharap akan ada keturunan yang akan mewarisi tahtanya kelak.
Pada suatu hari permaisuri melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Sang Kuri merasa senang dengan kelahiran anak pertamanya itu. Ia mengumumkan kelahiran anaknya ke seluruh pelosok negeri.
Namun tiba-tiba kebahagian Raja Sang Kuri lenyap tatkala mengetahui keadaan anaknya. Bayi mungil itu lahir dengan keadaan istimewa, bibirnya sumbing. Mengetahui hal itu Raja Sang Kuri merasa malu, lalu mengutus salah satu panglima untuk membuang anaknya ke hutan.
"Panglima, sekarang juga kamu buang anak ini jauh-jauh dari istana!" perintah Raja Sang Kuri.
"Tapi Gusti, bagaimana dengan permaisuri?" tanya panglima.
"Sudah, kamu turuti saja kataku! "jawab raja.
Mendengar titah raja panglima itu pun bergegas pergi membawa bayi itu ketengah hutan belantara. Sementara itu mengetahui anaknya telah dibuang permaisuri pun terguncang jiwanya. Dia pun mengutuk perbuatan sang raja. Ia mengutuk Raja Sang Kuri tidak akan pernah menikah dan mendapat keturunan sampai akhir hayatnya.
Waktu terus berlalu hari berganti hari jauh di dalam hutan dengan ijin dewa, bayi malang yang lahir tidak sempurna menjelma, bayi itu tumbuh besar menjadi gadis remaja yang cantik, Dayan Sumbing namanya. Dia hidup menyendiri di tengah hutan. Bersama dua ekor rubah yang setia menemaninya.
Kecantikan Dayan Sumbing yang luar biasa ini hingga terdengar ke telinga Raja Sang Kuri. Mendengar hal itu Raja Sang Kuri pun penasaran berniat untuk menjadikannya istri. Tak mau menunggu lama Raja Sang Kuri segera mengumpulkan pasukan untuk mencari Dayan Sumbing di tengah hutan. Benar saja tak lama utusan raja pulang dan memberitahukan tentang kebenaran kecantikan Dayan Sumbing. Raja Sang Kuri semakin penasaran tak sabar rasanya untuk bisa memboyong Dayan Sumbing ke istananya.
Keesokan harinya Raja Sang Kuri pun berangkat sendiri ke hutan untuk menemui Dayan Sumbing. Tanpa membawa pengawal Raja Sang Kuri mendatangi Dayan Sumbing di pondoknya. Pertama kali melihat Dayan Sumbing, Raja Sang Kuri langsung terpana akan kecantikannya. Ia tidak tahu kalau sebenarnya Dayan Sumbing itu anaknya, yang dulu saat lahir ia buang begitu saja.
"Wahai wanita cantik, Dayan Sumbing."panggil Raja Sang Kuri.
"Oh, siapakah tuan ini?" tanya Dayan Sumbing pelan.
"Aku Sang Kuri, bolehkah aku masuk?" tanya Raja Sang Kuri.
Sambil membuka pintu pondoknya yang masih tertutup Dayan Sumbing bangkit dan menghampiri Raja Sang Kuri. Ditatapnya seorang lelaki gagah dan tampan yang ada di hadapannya. Ia juga tidak tahu kalau lelaki yang ada di depannya saat ini adalah ayahnya.
"Tuan ini siapa dan apa keperluan tuan datang menemui hamba?" tanya Dayan Sumbing.
"Aku datang kesini untuk memboyongmu ke istana untuk aku jadikan permaisuriku nanti" jawab Raja Sang Kuri.
Dayan Sumbing pun kaget dan tersipu. Dalam hatinya baru kali ini ada seorang lelaki yang mau mendekatinya. Apalagi ingin menjadikannya seorang istri. Untuk menguji kesungguhan cinta Sang Kuri, Dayan Sumbing pun mengajukan permintaan. Dayan Sumbing meminta Raja Sang Kuri membawakannya sepasang hati kelinci untuknya. Sebagai sajian makan malam nanti.
Mendapat permintaan dari gadis pujaan yang baru ditemuinya itu Raja Sang Kuri pun langsung berangkat untuk berburu. Seharian berburu di tengah hutan tak satu pun binatang buruam di dapat. Raja Sang Kuri pun merasa kesal, hatinya mulai bergolak takut Dayan Sumbing kecewa. Di tengah kegalauan hatinya itu tiba-tiba dari balik semak terdengar suara binatang tengah berjalan.
Raja Sang Kuri pun bersiap dengan anak panah dan tombaknya. Tubuhnya berjalan pelan mengendap-endap mendekati sumber suara. Setelah dirasa cukup tepat posisinya anak panah yang sudah siap pun langsung di lepaskan. Keahliannya dalam berburu memang tak diragukan lagi terbukti anak panahnya tepat mengenai sepasang rubah yang tengah berjalan pelan. Sontak Raja Sang Kuri kaget bukan kepalang. Itu karena ia tahu, dua ekor rubah yang dibidiknya adalah sahabat Dayan Sumbing.
Tak mau kehilangan cintanya Sang Kuri pun segera membawa hati rubah itu untuk di berikan kepada Dayan Sumbing. Dayan Sumbing yang tengah gelisah menunggu pun tersenyum gembira melihat Raja Sang Kuri membawakan pesanannya. Langsung saja Dayan Sumbing memasak hati yang ia pikir adalah hati kelinci hasil buruan Raja Sang Kuri. Keduanya pun bersantap malam bersama di depan pondok sambil menikmati remang cahaya bulan.
Dalam hati kecil Dayan Sumbing bertanya-tanya. Hingga larut malam kedua sahabatnya belum juga pulang. Dia mulai khawatir terjadi sesuatu dengan rubah-rubah lucu miliknya. Sampai pagi tiba rubah-rubah itu pun tak muncul juga. Tak sabar lagi menunggu Dayan Sumbing mencarinya ke dalam hutan. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapatkan kedua sahabatnya itu telah di bunuh. Ia mencari petunjuk siapa pembunuh rubah rubah itu. Sebuah anak panah yang masih tergeletak disekitar tubuh rubah sahabatnya menjadi petunjuk pemburu kejam itu. Hati Dayan Sumbing kalut kesedihannya tak tertahan tatkala tahu pembunuh kedua sahabatnya adalah Raja Sang Kuri yang ia cintai.
Dayan Sumbing marah, kekaguman pada Raja Sang Kuri kini berubah jadi dendam yang dalam. Dengan terisak Dayan Sumbing kembali ke pondoknya.
"Dasar manusia kejam! Kenapa engkau membunuh rubah-rubah sahabatku?" gerutu Dayang Sumbi seketika itu juga.
Dayan Sumbing tak dapat menahan kesedihannya yang dalam.
Dalan kesedihannya itu tak henti hentinya Dayan Sumbing mengutuk keras perbuatan Raja Sang Kuri. Orang yang di cintainya telah berbohong dan menyakiti hatinya.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara derap langkah mendekati pondok Dayan Sumbing. Rupanya rombongan Raja Sang Kuri dan beberapa pengawalnya.
"Dayan Sumbing, aku datang untuk memenuhi janjiku," seru Raja Sang Kuri.
"Janji?"tanya Dayan Sumbing.
"Ya, aku akan membawamu ke istana"jelas Raja Sang Kuri.
"Tinggalkan pondok ini sekarang juga, dan tinggalkan aku! Pinta, Dayan Sumbing segera.
Raja Sang Kuri masih diam, dia tidak tahu mengapa Dayan Sumbing berubah pikiran. Tanpa rasa menyerah, Raja Sang Kuri terus membujuk Dayan Sumbing. Namun sang gadis pujaan hati, masih saja bersikap dingin dan tak menghiraukannya. Entah harus dengan kalimat apa dia membujuknya. Mereka semua diam seribu bahasa.
Tiba-tiba Dayan Sumbing berjalan menghampiri Raja Sang Kuri yang masih di atas kuda.
"Raja, tahukah bahwa anak panah ini telah menusuk jantungku?" kata Dayan Sumbing sembari membawa sebuah anak panah yang di genggamnya.
"Maksudmu apa?"tanya raja
"Mereka adalah jantungku yang telah kau bunuh."jelas Dayan Sumbing.
Seketika itu juga Raja Sang Kuri kaget bukan kepalang mendengar kata-kata Dayan Sumbing. Raut wajahnya berubah pucat. Rupanya Dayan Sumbing telah tahu siapa pembunuh rubah itu.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja telah memanahnya! "jelasnya.
"Berat aku untuk memaafkanmu." kata Dayan Sumbing
Raja Sang Kuri diam, dia tidak tahu harus dengan apa bisa meminta maaf.
"Aku bisa memaafkanmu tapi dengan satu syarat." kata Dayan Sumbing ketus.
"Apa syaratnya?"tanya Raja.
"Kamu harus membuatkanku danau dan sebuah perahu di dekat istana dalam waktu semalam!" jawab Dayan Sumbing.
"Baiklah aku akan penuhi syarat itu malam ini juga." jelas Raja Sang Kuri.
Raja Sang Kuri dan pasukan kembali ke istana. Hari itu juga setelah matahari tenggelam Raja Sang Kuri segera melakukan tugasnya. Dengan kesakitan yang dia miliki, Raja Sang Kuri mengundang pasukan dari kerajaan jin untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya.
Tak khayal dalam waktu semalam danau dan perahu pun hampir siap. Melihat hal itu Dayan Sumbing berpikir keras. Di mencari cara untuk menggagalkan keberhasilan Raja Sang Kuri.
Di malam yang hampir pagi itu Dayan Sumbing mengumpulkan sekam padi sebanyak-banyaknya. Dia menumpuk sekam-sekam di atas bukit lalu membakarnya. Ia juga memukul lesung seperti orang menumbuk padi. Tak lama kemudian kobaran api sekam dan riuhnya bunyi lesung membangunkan binatang hutan yang tengah tertidur. Suasana hutan pun menjadi ramai dengan suara binatang layaknya pagi hari.
Mengetahui hal demikian pasukan jin yang membantu Raja Sang Kuri kocar-kacir. Para jin mengira hari sudah pagi. Tanpa berpamitan para jin pun meninggalkan Raja Sang Kuri yang hampir selesai. Raja pun menjadi panik, perahu yang sedikit lagi akan jadi pun harus di selesaikannya seorang diri.
Namun tanpa bantuan pasukan jin Raja Sang Kuri tidak bisa menyelesaikan perahunya hingga pagi tiba. Dia menjadi marah, pikirannya kalap. Tanpa pikir Raja Sang Kuri menendang perahunya yang hampir jadi itu hingga ke atas bukit.
Mengetahui itu semua adalah ulah dari Dayan Sumbing, raja berusaha mencarinya ketengah hutan. Namun Raja Sang Kuri tak menemukan jejak Dayan Sumbing yang telah pergi menghilang.
Rupanya Dayan Sumbing tidak berani menemui Raja Sang Kuri. Wajahnya telah berubah pada wajah aslinya sebagai wanita berbibir sumbing. Hal ini di sebabkan karena ia telah melanggar pantangannya yaitu berbuat curang atau kecurangan sehingga ia harus menanggung resiko itu.
Dayan Sumbing malu, ia berlari sejauh-jauhnya dari hutan. Menuju hutan lain yang lokasinya jauh dari hutan semula. Hutan yang menjadi tempat persembunyian sehingga ia tidak bisa lagi ditemui atau bertemu dengan orang karena letaknya jauh di hutan di atas bukit. Bukit inilah yang sampai sekarang di kenal sebagai Bukit Papandayan. Dayan berasal dari nama Dayan Sumbi.
Gunung Papandayan kini terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.
Sejak saat itu Raja Sang Kuri jiwanya terguncang. Ia menjadi gila dan sakit sakitan lantas ia diasingkan ke tengah hutan. Sampai akhirnya nasibnya tak lagi di ketahui keberdaannya.
Demikanlah cerita yang terinspirasi dari kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbing. Yang merupakan certa rakyat asal mula Gunung Tangkuban Perahu.
Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, Gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Parahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17 oC pada siang hari dan 2 °C pada malam hari.
(Diolah dari berbagai sumber, referensi dari Wikipedia)

👏👏👏
BalasHapusSedikit ada typo bang "dengan kesakitan yang dia miliki"
BalasHapusmungkin maksudnya kesaktian
Permaisuri yang pertama, pergi ya, Pak?
BalasHapus