Dua Tahun Saja Post 24





Post 24
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono

SPLP atau Surat Perjalanan Laksana Paspor sudah kupegang. Kesempatan untuk pulang kampung pun sudah terbuka lebar. Ketakutan yang selama ini menghantuiku, sirna sudah.

Betapa tidak, hidup sebagai pekerja ilegal membuatku tak bisa lelap tertidur. Ancaman terjadinya operasi keimigrasian atau biasa disebut ras selalu menjadi hantu menyeramkan. Operasi ras yang di adakan oleh satuan polisi diraja Malaysia memang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tak terkecuali di dalam pabrik pun bisa menjadi incaran untuk operasi ras. Sasaran mereka adalah pekerja ilegal sepertiku.

Seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Pabrik tempatku bekerja pun tak luput dari incaran operasi ras. Waktu itu tepatnya menjelang tengah malam, saat kami semua para pekerja lelap tertidur. Tiba-tiba terdengar bunyi riuh di luar pagar. Aku yang sedang lelap tertidur seketika itu juga terbangun. Beberapa teman memberi tahuku akan ada ras. Mendengar kabar itu aku pun kalang kabut. Beberapa pekerja yang ilegal juga berhamburan lari keluar kamar.

Ada yang nekat lompat pagar untuk berlari menyelamatkan diri. Mereka yang keluar pagar lebih memilih untuk bersembunyi di hutan. Aku pun ikut berlari keluar dari kamar. Secepat mungkin aku mencari  tempat persembunyian teraman. Berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri itu yang terpikir.

Tak banyak waktu untuk berlama-lama berpikir. Aku pun segera mencari tempat teraman. Bak kontrol saluran pembuangan limbah pabrik menjadi tujuanku. Walau hanya berukuran kurang dari dari satu meter tak jadi soal. Tubuhku yang kecil masih bisa masuk di dalamnya. Dengan bantuan teman untuk menutupkan bagian atasnya sehingga tersamar dari penglihatan.

Di lubang inilah aku bersembunyi. Lebih dari dua jam aku bertahan di dalamnya. Untuk sekedar selamat dari sergapan operasi ras. Setelah dirasa cukup aman aku keluar dari tempat persembunyianku. Lega rasanya bisa selamat dari mereka.

Ada beberapa teman yang tertangkap dan dibawa ke lokap atau penjara. Meski situasi sudah kembali normal tapi tempat penginapan kami tak luput dari penggeledahan bahkan ada beberapa barang dari kami yang raib. Sebuah kamera dan uang 300 Ringgit miliku pun raib.

Tapi ya sudahlah yang terpenting aku sudah selamat tidak terciduk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR