Love in Bali Part 5
Love in Bali Part 5
Oleh Joko Septiono
Hari pertama bekerja menjadi pengalaman pertamaku yang tak akan kusia-siakan. Berpakaian rapi dengan seragam baru menjadi kebanggaan tersendiri. Bersiap bertemu teman baru, suasana baru menambah semangatku pagi itu.
Seperti hari kemarin pagi, saat aku bersiap diri. Kusempatkan menyeruput secangkir teh hangat yang sudah disiapkan di meja depan. Hangat dan wangi aroma teh khas Thailand mengawali hariku. Memang rasanya masih sedikit aneh tak seperti kebanyakan teh di Indonesia. Namun lambat laun lidahku mungkin akan terbiasa dengan rasa itu.
Bus pekerja berwarna kuning melintas di hadapanku. Aku yang sudah cukup lama menunggu langsung saja menaikinya. Kuambil posisi duduk di barisan bangku paling belakang. Sembari menikmati perjalanan pagiku yang tak begitu jauh.
Sesampainya di perusahaan, waktu makan pagi langsung menjelang. Pegawai berkumpul di kantin bersiap untuk sarapan. Begitu juga denganku ikut bergabung bersama mereka. Tak lama pelayan kantin menghampiriku membawa semangkok mi tomyam panas isi daging dan segelas sirup hangat.
Aku segera menyantap hidangan yang sudah ada di hadapanku. Aku yang tak biasa makan daging membuat tak sampai habis memakannya. Aku melanjutkan sarapanku dengan menyantap sepotong roti yang kubeli sendiri. Mungkin ini karena aku belum biasa, suatu hari aku pasti akan terbiasa.
Hari berlalu tanpa terasa sudah hampir satu bulan aku berada di sini. Aku merasa cukup nyaman bekerja disini. Hanya satu hal yang sedikit menyulitkanku. Soal menu makanan yang disajikan tak begitu cocok denganku. Meski begitu aku tak berani mengungkapkan ssmua ini kepada Mas Toto. Aku coba mengatasi hal itu dengan caraku sendiri. Makan roti adalah cara yang kutempuh.
Kian lama hari hari aku disibukan dengan segudang aktivitas pekerjaan. Aktivitas yang tinggi memerlukan tenaga yang prima. Tapi tidak dengan, asupan makanan yang kurang membuat energi tubuhku melemah. Pada akhirnya aku pun jatuh sakit.
Menghadapi keadaan yang demikian itu aku memberanikan diri untuk menceritakan kepada Mas Toto. Ia coba mengkonsultasikan dengan pihak perusahaan. Mengetahui keadaanku dia membawaku ke sebuah klinik pengobatan dan merawatku dengan baik. Aku sangat berterima kasih kepadanya.
Kabar sakitku pun sampai kepada kedua orangtuaku. Mas Toto-lah yang menelepon orangtuaku. Mereka tak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa mendoakan yang terbaik dan menyerahkan semua keputusan padaku.
Kabar ini sampai juga ke telinga Bella. Sudah kuduga kedua orangtuaku pasti akan menceritakannya pada keadaanku padanya. Bella ikut khawatir denganku, pasti. Beberapa pesan singkat ia kirimkan kepadaku. Dari sinilah aku mulai membaca perasaannya.
Malam mulai larut aku termangu di dalam kamar seorang diri. Belum kulihat teman-temanku yang lain masuk ke dalam asrama. Aku terbaring menatap langit-langit kamar. Pikiranku mulai sedikit kalut dalam heningnya malam.

Komentar
Posting Komentar