Ayah Jose Berpesan


Ayah Jose Berpesan

"Kakak, terima kasih sudah manut sama Ayah, ya!" begitu kataku sore ini pada puteri kecil yang hendak pergi tidur.
"Iya, Ayah." jawabnya singkat.
"Besok, ayah sudah kerja lagi. Kakak yang manut sama Embah ya, sama tante juga. Jagain dedek. Makan tinggal makan aja, nggam usah nungguin ayah pulang,"
"Iya, Ayah. Kalau Kakak kepengin minum, minum aja ya! Mimi teh, apa mimi bening?"
"Mimi susu juga boleh. Nanti kalau susunya habis, Ayah beli lagi."
"He eh."

Iya, memang dua hari ini aku full menjaga puteri kecil. Sebab ibunya ada tugas negara. Sore, baru dia pulang. Itu juga karena permintaanku, meski sebenarnya ada kelas malam.

"Ibu. Boleh tidak boleh, kamu harus pulang! Kasihan Kakak Jesi!"
Malam Jumat kemarin, sebelum tidur aku berpesan begitu padanya. Dan, aku sedikit merasa bersalah, ketika tengah malam aku terbangun dari tidur, kulihat dia masih terjaga.

"Ayah, ibu dari tadi belum bisa tidur." katanya sedikit berbisik.
"Kenapa?"
"Lututku sakit. Tadi habis kepeleset di kamar mandi pas ambil air mau mbilas,"
"Mungkin Ibu kurang hati-hati?"
"Bisa jadi. Mana telapak kaki kegetok tembok gitu, nyerinya sampai ke kepala. Ngrememeh."
"Ya, udah di bawa tidur aja. Nanti kan sembuh."

Aku kembali terlelap, tak begitu memperhatikannya lagi. Tapi, rupanya saat terbangun untuk kedua kali. Istriku juga masih terjaga, malah dia sedang duduk di sebelahku saat mataku terbuka.

"Ayah, aku belum tidur juga!"
"Kenapa lagi?"
"Kaki beneran sakit ini, gara-gara kepeleset tadi. Minta tolong pijitin, mau nggak?"

Pelan-pelan aku bangun, meski dengan rasa kantuk yang luar biasa.
"Yah, ibu kepikiran besok juga. Kalau nggak dapat izin, gimana? Bingung juga aku. Terus ngomongnya gimana gitu. Kayaknya itu juga yang bikin jadi susah tidur."
"Ah, gitu aja dipikirin. Dibikin santai aja kenapa. Yang besok ya besok. Sekarang waktunya istirahat."

Istriku terdiam. Aku masih memijat kakinya pelan-pelan. Sekitar ada sepuluh menit kemudian, kulihat dia sudah tertidur.

"Kasihan istriku. Mau tidur aja, harus nunggu dikasih wejangan sama aku. Rupanya dia lagi banyak pikiran. Tahu gitu, aku kasih pesan tadi sekalian pas ngebilangin Kakak Jesi."

Istriku memang begitu, belum bisa tidur tanpa bicara dari hati ke hati denganku. Karena dia sudah biasa berteman pesanku sebagai bahan refleksi harian baginya.

Karena diantara kami, tidak ada rahasia apapun juga.

Komentar

  1. Kan jdi pengen nikah, dahal calon gk ada kwkwkwk

    Kyknya istri ayah jesi cemasan seperti kebayakan wanita

    BalasHapus
  2. Wah... Ada yang lagi bagi resep nikmat berkomunikasi nih. Catat. Hehe

    BalasHapus
  3. Masha Allah, semoga jadi keluarga sakinah mawadah warahmah yah ayah Jesi😀

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR