Sesuatu yang Hilang Part 2
Part 2
Sesuatu yang Hilang
Oleh Joko Septiono
Kudengar suara sepeda motor menderu. Aku tahu, itu kendaraan roda dua milik istriku yang sedang dinyalakan. Oh, rupanya ia sudah akan berangkat ke Cilacap kota sana. Ya sudahlah. Kuizinkan ia berangkat dengan segala do'a. Semoga harinya dan hariku menyenangkan, juga hari kita semua.
Sejenak aku melupakan, apa yang ia cari. Apakah ia sudah menemukannya? Atau sesuatu yang dicarinya itu benar-benar hilang? Ah, sudahlah. Biarkan saja dulu, sekarang masih terlalu pagi untuk menafsirkan hal yang terlalu berat. Aku masih mengantuk, pergi tidur kembali rasanya jadi jalan terbaik. Siapa tahu, aku bisa menemukan jawabannya dalam mimpiku, sebentar lagi.
Aku tertidur lagi. Merapat kembali, memeluk puteri kecil dalam kesejukan pagi. Aku tidak tahu, jika istriku telah mengirimkan beberapa pesan di WhatsApp grup keluarga. Ia menanyakan sesuatu yang dicarinya sejak tadi. Sesuatu yang mungkin baru saja hilang? Atau sesuai yang sudah lama hilang?
Aku tidak tahu pesan itu, karena belum bisa memegang gawaiku. Semalam aku tidur malam dan menggunakan gawai untuk membuat draft tulisan, jadi pagi ini jadwalnya harus mematikan, demi proses pengisian baterai berjalan lancar dan cepat, tanpa gangguan.
Sejenak aku tak mengingat apapun. Karena sudah fokus pada puteri kecil dan hari ini. Iya, hari ini. Hari Sabtu adalah hari istimewa bagiku. Karena hari ini aku bakalan bermain seharian dengan anak semata wayangku. Sementara istriku? Biarkan dia ikut kegiatan di Cilacap kota sana. Besok baru kegiatan itu akan selesai. Sore nanti saat dia pulang, aku ingin menanyakan apa yang belum bisa kutanyakan pagi ini.
Pagi ini udara sejuk, sempurna membawaku lelap dalam intensitas waktu yang lumayan panjang. Saat tangan mungil menepuk-nepuk pipiku, aku sadar, hari mulai beranjak. Rupanya puteri kecilku sudah bangun dari tidurnya.
"Anak ayah sudah bangun? Do'a dulu yukk!"
"Alhamdulillahilladzii ahyanaa ba'damaa amaatanaa wailaihinnusuur."
Aku mencium kedua pipi, bibir dan dahinya.
"Ayah, ayah. Ayah nggak kerja?" tanya sang putri kecil padaku. Aku hanya menggeleng. Masih berusaha menggenapkan seluruh jiwa dan ragaku. Kan baru bangun tidur, nyawa serasa belum kumpul.
"Ibu, Ibu nggak kerja?" puteri kecil lanjut menanyakan ibunya. Aku juga hanya menggeleng.
"Ayah, ayah. Ibu sekolah?" entah kenapa aku mengangguk. Untung puteri kecil tak serius menanggapi. Ia sama-sama baru bangun tidur seperti aku.
"Ayah, ayah. Kakak Jesi sudah berdo'a tadi. Sebelum tidur."
"Bangun tidurnya sudah?" tanyaku spontan, sambil bangun dan mengambil posisi duduk. Giliran puteri kecil yang mengangguk.
"Ayah, ayah. Apa gawainya ibu di bawa sekolah?"
"Iya, sayang..."
"Gawainya Ayah di mana?"
"Lagi di cas..."
"Apa Kakak Jesi boleh pinjam?"
Aku terdiam.
"Sebentar aja, Ayah. Nggak lama. Nggak lama!" Aku tersenyum. Mengambil posisi berdiri, lalu mencabut kabel pengisian baterai lalu menyalakan gawaiku.
Puteri kecil tertawa kegirangan, tahu apa yang dia minta bakal segera diberikan. Eh, tapi tunggu. Tunggu! Ada bunyi pesan beruntun terdengar setelah gawaiku dinyalakan. Adakah pesan penting untukku sepagi ini?
"Ayah, ayah. Sini gawainya!" puteri kecil bangun dari tempat tidur dan merebut gawai yang sedang kupegang.
Jangan-jangan, bunyi beruntun itu pemberitahuan pesan ya. Tapi dari siapa? Aku berpikir keras, sambil mendampingi puteri kecil bermain gawai kemudian. Apakah itu pesan dari istriku? Atau dari siapa? Sungguh, sungguh aku dibuat penasaran.

Sungguh yang baca juga jadi penarana ini mah, pinteran nih ayah Jesi mancing orang biar baca tulisan selanjutnya. aku belajar dari tulisan ini
BalasHapus