Kakak Jesi Berceloteh



Kakak Jesi Berceloteh
Oleh Joko Septiono

Suatu pagi, saat saya libur dari kerja, puteri kecil sudah terbangun dari tidurnya.

"Ayah, ayah libur ya?"
"Iya, sayang... Hari ini kita main sama-sama!"

Puteri kecil terlihat sumringah, begitu pula sosok istimewa di sebelahnya.

"Apa hari ini Ibu juga libur?"
"Iya, sayang... Ibu mau ke dapur dulu apa boleh?"
"Boleh, Kakak Jesi nanti main sama Ayah!"

Sosok istimewa itu pergi meninggalkan kami, saya dan puteri kecil.
"Jesi, jesi ayuk main!"
"Ayah, ayah... Jangan panggil Jesi. Kakak Jesi. Kan udah punya dedek."

Saya tersenyum. Oke baiklah sayang.


Ada suara anak kecil memanggil-manggil puteri kecil.
"Jesi, Jesi, main yuk!"

Spontan puteri kecil bangun dan ke luar kamar. Menuju ruang keluarga di dekat kamar.

"Kakak Jesi, bukan Jesi. Kan udah punya dedek..."

Yang diajak ngobrol, diam. Langsung mengambil mainan yang ada di kardus. Ada mainan berwarna merah, kuning dan hijau. Saya pun iseng bertanya pada mereka.

"Lampu merah artinya apa ayo?"
"Berhenti, Ayah..." jawab Kakak Jesi.

Oke lanjut.

"Lampu hijau artinya apa?"
"Jalan terus..."
"Kalau lampu kuning?"
"Hati-hati kan, ya Ayah?"

Saya pun tersenyum.

Anak kecil yang menemani puteri kecil ikutan ingin bertanya juga ternyata, "Kalau lampu biru si,  Jes?"

Kakak Jesi pun diam. Tidak menjawab apapun.

Saya pun geleng-geleng kepala. Begitu cerdas reaksinya.  Puteri kecil tidak menyahut, karena yang di tahu, lampu lalu lintas tidak ada warna biru. Yang ada ya ketiga warna yang saya tanya tadi.

Sungguh celotehnya sangat berisi. Itu yang membuat saya selalu ingin cepat-cepat sampai rumah saat waktunya sudah pulang kerja setiap harinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR