Dua Tahun Saja Post 18
Post 18
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono
Hari Raya menjelang, namun hariku masih terasa sepi. Ini karena aku masih juga sendiri. Masih ada iri yang menyelubungi hati mereka, teman-temanku yang tak begitu tahu apa yang sedang terjadi. Ini membuat Ramadhan pertamaku di Malaysia memberiku pengalaman berbeda.
Tak seperti Ramadhan di kampung yang biasa kujalani. Bahkan di awal bulan, sama sekali tidak kulihat gegap gempita menyambut datangnya bulan suci umat Islam semua berjalan biasa saja. Aku yang biasa menaruh bedug sehari sebelum bulan puasa. Aku yang biasa menyiapkan membersihkan masjid di depan rumah. Merasa kehilangan semua momen itu. Sungguh, hatiku pilu. Bagai tersayat sembilu.
Tak ada hal istimewa yang diberikan kepadaku selaku pekerja. Bos-bos itu tetap memasang jam kerja seperti biasa. Tidak ada kortingan waktu kerja meski aku sedang berpuasa. Tapi ya sudahlah namanya juga di negeri orang tak sama dengan negeri sendiri.
Aku berangkat pagi seperti biasa menunggu bus umum yang hendak kunaiki. Di tempat kerja pun aku bekerja tak beda dengan hari lain apa pun aku kerjakan. Pulang kerja pun tak ada yang beda. Pukul 5 tepat aku baru keluar dari hotel tanda usai jam kerja hari itu. Aku harus antri menunggu bus yang akan mengantarku pulang.
Hanya saja ada sedikit pemandangan berbeda. Lahan parkir di komplek rumah tinggalku yang biasanya penuh dengan mobil kini sedikit berubah. Semenjak awal ramadan lahan parkir itu di penuhi penjual makanan unthk berbuka. Penjaja makanan ini bersiap dari pukul 3 sore hingga waktu maghrib tiba.
Aku yang capek seharian full bekerja, sambil tetap menjalankan ibadah puasa sedikit terbantu karenanya. Aku menjadi jarang masak, supaya sampai asrama tinggal makan saja. Paling hanya masak air untuk membuat teh manis atau mandi air hangat. Agar badanku bisa segera lepas dari segala kepenatan yang ada.
Namun, selalu ada yang istimewa untuk momen tak istimewa sekalipun. Malamku di Ramadhan ini sungguh selalu berderai air mata. Aku yang tak pernah absen salat tarawih meski hanya di kamarku saja, selalu tak bisa menahan tangis saat teringat keluarga yang ada di kampung halaman sana.
Apa kabar mereka semua? Kabarku baik-baik saja. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka semua.

Komentar
Posting Komentar