Dua Tahun Saja Post Terakhir
Post 25
Post Terakhir
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono
Detik akhir perjalananku di malaysia kian terasa. Tepatnya menjelang hari raya Idulfitri tahun 2003 aku berencana pulang. Dan benar saja rencanaku itu mendapat lampu hijau dari sang majikan.
Meski agak berat meninggalkan pekerjaan namun aku harus tetap meninggalkannya. Berat memang tapi bagaimana lagi keadaanku yang memaksa harus pulang. Kesempatanku untuk pulang dengan aman tak mungkin kusia-siakan.
Entah kapan lagi akan ada kebijakan pemerintah untuk TKI ilegal bisa pulang bebas. Tidak harus menggunakan kapal tongkang dan melalui jalan belakang. Cik Mazri pun tak berani menahanku. Dia hanya bisa berharap aku bisa kembali lagi secepatnya utuk melanjutkan kerjaku.
Aku pun hanya bisa mengiyakan tanpa sanggup untuk berjanji. Masih teringat kejadian kemarin rasanya jera aku untuk kembali lagi.
Pagi itu tiba aku bersiap untuk mengakhiri petualanganku di sini. Kupandangi tiket pesawat yang kupegang. Bibirku tersenyum tipis membayangkan sesuatu. Ya ini tiket asli bukan tiket palsu yang pernah kupegang setahun lalu. Pikirku sedikit mengenang yang sudah berlalu. Bayangan untuk segera berkumpul keluarga kian nyata. Rasa senang bercampur sedih menjadi satu. Tanpa sadar genangan air mata mulai jatuh. Kenangan setahun lalu melintas dalam benakku.
Entah bagaimana nasib teman-temanku sekarang. Tak ada kabar berita yang kudengar. Perjuangan bersama waktu itu kini akan berakhir sudah. Tiba-tiba lamunanku terhenti ketika terdengar suara memanggilku keras. Ya Cik Mazri sudah bersiap di hadapanku. Dia bersiap untuk mengantarku ke bandara KLIA.
Aku segera bangkit dari tempat dudukku semula. Aku melangkah menuju mobil kancil yang terparkir di depan pintu pabrik. Beberapa teman ikut mengantarku sampai depan pintu. Tak terkecuali Rizki, dia memang sudah bersiap untuk ikut mengantarku ke bandara.
Tak berapa lama mobil pun melaju kencang menyusuri jalanan yang mulai ramai. Tak banyak obrolan kami selama perjalanan.
Satu jam kurang aku melaju akhirnya sampailah aku di bandar udara KLIA. Aku turun dan tak lama berbincang aku pun berpamitan dan langsung melakukan cek in di loket yang ada.
Menunggu tak lama di ruang tangga akhirnya aku pun menaiki pesawat menuju jakarta. Cerita tak cukup sampai di situ. Perjuanganku belum selesai.
Setelah aku sampai di jakarta tepatnya di bandara Halim Perdana Kusuma aku langsung menuju ke lobi bandara untuk keluar. Namun aku ditahan sejenak oleh petugas dan aku diarahkan untuk keluar melalui pintu 3. Pintu khusus TKI, kata petugas bandara yang menahanku. Aku pun ikut saja menuruti semua itu. Begitu sampai di luar aku melihat keadaan sangat ramai. Tiba-tiba seseorang menggandengku kuat. Orang yang tak kukenal itu menarik, dan mendekati mobil. Aku dipaksanya masuk mobil. Aku menolaknya namun aku tak kuasa.
Tas jinjingku pun sudah di bawanya masuk mobil. Akhirnya aku ikut saja apa yang dia mau. Mobil langsung melaju kencang keluar area bandara. Sampai di tengah jalan salah satu dari mereka meminta bayaran padaku. Pertama meminta baik-baik namun lama kelamaan menjadi setengah memaksa.
Betapa tidak? Bayaran yang mereka minta tak sewajarnya tarif taksi pada umumnya. 350 ribu yang harus kubayar hanya untuk mengantarku sampai terminal bis terdekat. Dengan berat hati aku pun membayarnya. Aku pun langsung menaiki bis yang siap mengantarku pulang ke Cilacap, kampung halaman tercinta.

Komentar
Posting Komentar