Dua Tahun Saja Post 23



Post 23
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono

Hampir setahun aku bekerja di sini. Kepercayaan Cik Mazri semakin besar kepadaku. Tak hanya gaji karyawan yang aku handel, keuangan pabrik pun menjadi hal yang dipercayakannya padaku.

Hampir seluruh keuangan pabrik, baik masuk maupun keluar aku yang mengurus. Membuat laporan keuangan masuk dan keluar menjadi tugas rutinku. Aku pun merasa sudah sangat nyaman dengan apa yang kudapatkan. Gaji yang tiap bulan kuperoleh aku percayakan pada Cik Mazri untuk menyimpannya. Sesekali aku mengirimkannya ke keluarga di kampung.

Pada suatu hari aku mendapatkan informasi dari salah seorang teman. Informasi  dari kantor KBRI yang membuka pembuatan SPLP atau Surat Perjalanan Laksana Paspor. Mendengar hal itu aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Aku langsung minta izin untuk pergi ke KBRI. Cik Mazri pun tak menghalangiku.

Hari itu juga aku langsung menuju kantor KBRI yang berada di Kuala Lumpur. Dengan menggunakan bis aku berangkat ke KBRI seorang diri. Namun di tengah perjalanan bus yang kutumpangi berhenti. Ternyata ada operasi imigrasi dari polisi diraja Malaysia (PDRM).

Mengetahui hal itu aku langsung panik dan hanya bisa berdiam di dalam bus. Dua orang polisi masuk kedalam bus. Mereka memeriksa dokumen setiap penumpang. Tibalah giliranku, salah satu dari mereka menghampiriku. Aku diminta menunjukan dokumen diri berupa permit.

Aku terdiam tak kuberikan apapun padanya. Tak lama polisi itu pun memegang tanganku kencang. Aku di bawa turun dari bus lalu aku dipaksa masuk mobil operasi. Aku pun menurut saja karena kutahu aku salah.

Ada beberapa orang sudah duduk diatas mobil bak besar itu. Beberapa lama menunggu aku dibawa melaju menuju kantor polisi terdekat. Aku digiring masuk ruangan secara beriringan. Satu persatu di antara kami diinterogasi layaknya penjahat besar. Barang bawaan kami pun di ambilnya. Tas dan dompet pun tak luput dari pemeriksaan.

Satu persatu dari kami di minta untuk menelpon majikan untuk membebaskan dengan uang tebusan. Namun itu tak aku lakukan aku memilih untuk melakukan transaksi sendiri. Alhasil sebuah handphone dan uang sebesar 200 ringgit malaysia aku serahkan kepada mereka. Setelah semua beres aku pun di perbolehkan bebas.

Aku langsung melanjutkan perjalananku ke KBRI untuk membuat SPLP. Kali ini aku memilih menggunakan taksi untuk menghindari hal yang tadi terulang lagi. Sesampainya di kantor KBRI aku langsung mendaftar dan mengantri. Kulihat sudah banyak orang yang mengantri sebelum aku datang. Aku pun duduk di kursi tunggu yang sudah mulai penuh.

Satu persatu dari kami dipanggil untuk foto dan lain-lain. Tak perlu menunggu lama aku pun di panggil. Aku segera bangkit dan menghampiri loket. Setelah di ambil foto dan mengisi formulir aku pun kembali duduk. Tak lama berselang aku kembali dipanggil dan kuterima buku kecil berwarna hijau serupa paspor. Rupanya SPLP-ku sudah jadi.

Aku langsung bergegas pulang menggunakan taksi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR