Love in Bali Part 3



Love in Bali
Part 3
Oleh Joko Septiono

Kabar rencana kepergianku ke Thailand pun sampai ke telinga Bella. Entah dari siapa dia bisa sampa menjadi tahu berita itu. Aku sendiri tidak pernah memberi tahu rencana itu. Kupikir bukan kapasitasku untuk memberikan kabar itu. Karena diantara kami memang belum ada ikatan hubungan apapun.

Sore itu selepas aku pulang kerja. Tiba-tiba gadgetku berbunyi kencang. Langsung saja kukeluarkan dari dalam tas. Kulihat ada nama Bella di sana. Ternyata dia meneleponku. Dengan pelan kujawab panggilan Bella itu.

Tak lama kemudian kami saling sapa ringan. Lama kelamaan kami terlibat obrolan cukup serius. Bella mempertanyakan kebenaran kabar rencana kepergianku ke luar negeri. Aku pun membenarkan kabar itu. Bella tampak terdiam, tak seucap kata pun keluar dari mulutnya.

Aku tahu Bella sedikit bersedih mendengar kabar itu. Namun lagi-lagi alasan tak mau menunda kesempatan menjadi alasanku kepada Bella. Aku berusaha meyakinkan bella dengan caraku sendiri. Meski aku yakin tak ada alasan Bella untuk menahanku untuk pergi. Bella menutup pembicaraanku dengan tangisannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Menjelang beberapa hari keberangkatanku ke Thailand aku diizinkan pulang ke rumah untuk berpamitan. Sore itu juga aku bersiap untuk pulang. Aku menuju terminal untuk mencari bus yang akan mengantarku pulang ke Cilacap.

Kira-kira 8 jam perjalanan akhirnya aku bisa sampai di rumah. Mengetahui keberadaanku di rumah, Bella pun menemuiku dan memberikan selamat atas apa yang kudapatkan. Walaupun aku tahu dalam hatinya terbersit rasa sesak yang dalam. 

Dua hari di rumah rasanya tak cukup mengobati kangenku pada keluarga. Namun aku sudah harus kembali lagi ke Jakarta. Sore itu juga aku berpamitan. Kulihat ada Bella di depan rumah. Rupanya dia tak ingin melewatkam momen terakhir untuk bisa bertemu denganku. Matanya sembab, aku tahu ada bening kristal jatuh perlahan meski ia tutupi dengan kacamata. 

Meski begitu, tatapannya tajam tertuju ke arahku. Aku tahu ada rasa yang dia pendam dalam-dalam. Sesekali dia tertawa renyah mencairkan suasana. Bersama Alfi temannya di datang. Diselipkaannya selembar surat berwarna coklat di tasku. 

Aku tak bisa berucap apa pun. Aku takut membuat sebuah harapan yang tak pernah tahu ujungnya. Hanya kusunggingkan senyum tipis di bibir ini sebagai salam terakhirku.


Komentar

  1. Mas Joko Istiqomah nih. Hehe manteeep.
    Gak keganggu sama block writer, stuck ide, atau sejenisnya kalau aku liat. Mantep.

    Tapi kalau boleh kasi saran, gimana kalau gaya tulisannya lebih banyak Show dari pada tell. Bagaimana? Hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR