Love in Bali Part 6


Love in Bali Part 6
Oleh Joko Septiono
🙏
Hampir dua bulan aku menjalani kehidupan di sini. Kekalutanku telah sempurna berubah menjadi keinginan untuk segera pulang ke Jakarta. Kerinduan itu rasanya tak bisa dibendung lagi.

Tanpa rasa malu aku ungkapkan semua ini kepada Mas Toto. Tanpa menunggu lama Mas Toto  pun bertindak. Mas Toto dengan sigap menguruskan rencana kepulanganku. Dia bolak-balik menghadap staf HRD perusahaan.

Tidak betah menjadi alasanku selain sakitku beberapa waktu lalu memperkuat keinginan minta kembali ke Jakarta. Pihak perusahaan pun  tidak mempersulit proses itu. Karena visa yang kupunya memang masih berlaku. Jadi aku bisa kapan saja pulang.

Tak menunggu lama, selang beberapa hari aku diterbangkan kembali ke Jakarta. Sedikit lega pikirku bisa kembali ke Indonesia. Setibanya di Jakarta aku langsung menemui Pak Joko. Dia adalah manajer training saat itu. Beliau pun menyambutku dengan suka cita tanpa raut marah padaku. Tak seperti yang kukira sebelumnya bahwa aku akan kena marah.

Alih-alih kena marah darinya, aku malah dapat izin cuti 4 hari. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Cuti 4 hari aku gunakan untuk pulang kampung.

Mendengar kabar kepulanganku, Bella langsung menemuiku. Kali ini Bella lebih berani menyambangi rumahku. Aku melihat kedekatan yang tak biasa antara Bella dan ayahku. Entah karena apa ini semua bisa terjadi.

Sore itu, aku duduk seorang diri di beranda rumah. Tiba-tiba tiba gadgetku berbunyi. Rupanya Bella yang menelponku. Setelah berbincang sesaat tak lama Bella pun sampai di hadapanku.

Entah dengan ilmu apa dia bisa cepat sampai. Sore itu Bella mengajakku pergi ke rumah Iin, teman SD-ku. Rumahnya tak begitu jauh sekitar 200 meter jaraknya.

Aku dan Bella berjalan beriringan, meski tak bergandengan kami nampak begitu dekat. Sepanjang jalan puluhan mata menyorot kepadaku dan semangat padanya. Entah apa yang terpikir oleh mereka yang melihat kami.

Sampai di depan rumah Iin, sudah nampak dia senyum tipis di depan pintu. Seraya menggodaku dan Bella, Iin memandangi kami tanpa henti. Ia pun mengacungkan kedua jempolnya ke arahku dan Bella.

Itu tanda apa aku tak tahu. Serasa ada sesuatu yang sudah direncanakan sebelumnya. Tapi ya sudahlah, aku ikut membaur dalam obrolan bersama dua perempuan ini.

Berkali kali-kali Iin memuji aku dan Bella. Kekompakanku dengannya selalu Iin elu-elukan. Ia juga memuji kemiripan wajah kami yang katanya berjodoh. Aku tak lantas percaya diri begitu saja. Aku biarkan saja semua itu berlalu biar waktu saja yang berbicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR