Love in Bali Part 1



Part 1

Love in Bali
Oleh Joko Septiono 

(Cinta Tak Seindah Warna-warni Dunia)

Tahun 2006 adalah tahun penuh warna bagiku. Kenapa? Ya karena di tahun ini bisa dibilang aku mulai mengenal cinta. Cinta yang sudah cukup lama tak kurasakan. 

Cerita berawal pada saat pembentukan panitia reuni. Aku mengenalnya sebagai sosok wanita yang cantik, manis dan smart. Aku yang waktu itu terpilih menjadi ketua dan dia terpilih jadi sekretaris. Awalnya aku mengenal biasa saja. Tak ada rasa apapun di dalam benakku. 

Dia adalah Bella, gadis lugu yang kukenal sejak saat itu. Gadis desa yang masih duduk di bangku kuliah ini sebenarnya tak asing bagiku. Selain rumahku tak begitu jauh dari rumahnya, sebenarnya kami pun sering ngaji bersama di masjid. Hanya saja perbedaan usia kami menjadikan kami tak saling kenal. 

Seiring berjalannya waktu tugas kepanitian itu membuatku semakin sering bertemu. Intensitas bertemu yang sering ini menjadikan aku dan dia semakin dekat. Dari mulai mencari donatur sampai briefing menjelang acara hingga acara berlangsung. 

Tak ayal kedekatan ini pun menjadi sorotan teman yang lain. Banyak diantara mereka yang mendukung dan ada juga yang mencela. Semua itu tak kuhiraukan, aku tetap melakukan tugasku. Meski aku sendiri tak memungkiri adanya getaran rasa di hati ini. 

Hari demi hari kian berlalu aku dan Bella semakin terlihat dekat dan lebih akrab. Aku pun kerap berbincang renyah ketika ada kesempatan bertemu. Namun tak ada ikrar apa pun di antara kami. Aku hanya menjalani saja hubungan yang sudah terjalin dengan baik ini. 

Hingga pada suatu hari aku harus pergi ke jakarta. Sebuah panggilan training di perusahaan distributor cat merekrutku. Dengan senang hati aku menerima semua itu. Meski ada rasa berat menghuni hatiku. Berat untuk meninggalkan Bella yang sudah beberapa waktu mengisi hariku. 

Kepergianku ke Jakarta yang mendadak ini cukup membuat Bella merasa sedih. Dia pun tak bisa menahanku karena memang belum ada ikatan lebih antara kami. Kepergianku ke Jakarta untuk belajar menjadi colorist menjadi alasan kuat Bella agar belajar untuk perlahan melepaskan aku.

Belajar menjadi colorist sedikit menyibukanku. Hampir seharian aku berada di dalam laboratorium warna. Membuat warna-warna baru dalam keseharian menjadi kesibukanku setiap hari. Meski begitu komunikasiku dengan Bella tak lantas terputus. 

Sesekali aku berbagi cerita denganya melalui gawai. Sejak saat itulah hari-hari ku penuh dengan warna-warna indah. Seperti Bella yang kini mulai mewarnai hatiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR