Dua Tahun Saja Post 20
Post 20
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono
Menjalani hari-hari terakhir bekerja menjadikanku sedikit gelisah. Dua pilihan bergolak dalam hati yang terdalam. Pilihan untuk benar-benar pulang dengan uang pas-pasan atau pilihan untuk mencari bos baru alias pindah kerja.
Di tengah kegalauanku tiba-tiba Bang Rusli datang menawariku pekerjaan. Dia mengenalkanku dengan saudara perempuannya. Cik Mazri namanya. Dia adalah seorang pemilik perusahaan pembuatan pakaian jadi di Taman Meru Klang. Beliau juga pemilik butik terkenal di Kuala Lumpur. Cik Mazri biasa aku memanggilnya.
Sebenarnya aku sudah tidak asing lagi dengan perempuan satu ini. Aku sering bertemu dengannya saat beliau berkunjung ke rumah Bang Rusli. Meski begitu kami belum saling kenal. Pengusaha yang tinggal di Negeri Seremban ini memang mempekerjakan beberapa orang Indonesia di perusahaan maupun tokonya. Aku pun kerap bertemu dengan mereka tatkala mengikuti Bang Rusli berkunjung ke pabrik milik Cik Mazri. Aku pun tak perlu berpikir panjang untuk menerima tawaran pekerjaan itu.
Tiga hari menjelang kontrakku habis aku pun menyudahi pekerjaanku. Hatiku sudah sedikit lebih lega di banding sebelumnya. Aku pun sudah optimis untuk pindah kerja sesuai tawaran Bang Rusli.
Hari itu juga aku mulai sibuk berkemas. Aku sibuk mencari tiket yang akan kubawa ke kantor. Sebagai bukti kuat akan kepulanganku. Sehari itu juga aku menyusuri jalanan di Kuala Lumpur untuk mencari tiket. Satu persatu kedai penjual tiket kudatangi. Sampailah aku pada satu penjual tiket palsu.
Apa tiket palsu? Ya tiket palsu yang biasa dipakai para pekerja Indonesia untuk membohongi majikan atau bos dengan alasan pulang kampung. Tiket palsu ini memang dijual sangat murah bisa sampai sepuluh kali lipar lebih murah dari tiket asli. Usai mendapatkan tiket aku pun berencana segera menemui Mr Liem, pada keesokan harinya.
Dengan percaya diri aku pun mendatangi kantor. Kuberharap hari itu juga aku akan mendapat sisa gajiku yang masih ada dan juga semua dokumen diri yang ada. Sesampainya di kantor tak kujumpai Mr Liem, dia sedang berada di luar kota. Hanya ada Ramesh di kantor itu. Ramesh pun sudah tau maksud tujuanku datang. Aku pun langsung menyodorkan tiket palsu yang sudah kubeli kemarin.
Sejenak Ramesh melihat dan meneliti tiket yang kukasih tadi. Tak lama memudian Ramesh mengembalikan tiket itu dan menyodorkan amplop yang berisi sisa gajiku. Namun tak ku dapati paspor dan surat lain di dalam amplop tadi. Aku mempertanyakan kepada Ramesh. Ramesh pun menjelaskan bahwa paspor akan di berikan besok oleh Mr Liem di pelabuhan. Sontak aku kaget aku memaksa Ramesh memberikannya sekarang juga namun Ramesh tidak menggubrisku.
Aku pun pulang dengan hati kecewa.

Komentar
Posting Komentar