Dua Tahun Saja Post 7







Post 7
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono

Hari  berganti hari, minggu berganti minggu tak terasa hampir satu bulan aku bekerja. Sudah beberapa lama juga aku meninggalkan keluarga. Belum seucap kabarpun aku kirim ke keluarga. Rasa kangen yang dulu menebal mulai mengikis seiring berjalannya waktu. Kesibukan bekerja sedikit mengurangi kangenku pada keluarga. Ditambah banyaknya teman bisa menjadi obat rindu meski hanya untuk sejenak saja.

Sore itu setelah selesai jam kerja adalah waktu yang cukup menggembirakan. Ya, sore itu adalah waktunya gajian. Ini adalah gaji pertama yang bakal kuterima. Belum terbayang berapa banyaknya, namun keceriaan jelas terpancar dari wajahku. Tak hanya aku yang merasakan kegembiraan itu rupanya semua pekerja pun merasakan hal yang sama.

Sore itu matahari sudah mulai beranjak ke barat. Jingga sebentar lagi mungkin akan datang. Tapi memang kami harus menyelesaikan semua pekerjaan hari ini, baru pengumuman gajian itu diumumkan. Sempurnalah kami semua bersemangat menyambut uang hasil jerih payah bekerja di proyek ini. Proyek pekerjaan bangunan.


Tepat di depan kantor semua pekerja berkumpul. Semua orang berbaris antre dengan rapi. Begitu juga denganku yang datang agak terlambat. Meski antrian sudah cukup panjang aku tetap ikut berbaris. Satu persatu pun menerima uang gaji masing-masing.

Tibalah giliranku, dengan wajah berbinar, kuterima gajiku. Senyum segar tersungging di bibirku. Kubuka amplop berwarna putih perlahan. Kulihat beberapa lembar mata uang ringgit di dalam amplop. Kukeluarkan satu persatu lembaran uang itu. Ada empat lembar pecahan ratusan, enam lembar pecahan lima puluhan, tiga lembar uang puluhan dan beberapa pecahan satu ringgit. Kugenggam erat uang itu, aku pun bergegas kembali ke asrama.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR