Dua Tahun Saja Post 3




Post 3
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono

Sebulan sudah berlalu. Tiba-tiba lik Slamet memberi tahu, bahwa besok aku harus medical cek. Aku sedikit lega. Harapan demi harapan mulai terjawab. Penantian yang cukup lama mulai menemui titik terang. Ayah ibuku pun turut gembira mendengar berita itu.

Keesokan harinya aku bersama lik Slamet pergi ke Cilacap untuk menemui pak Bernat. Seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor honda miliknya, lik Slamet mengantarku. Hari itu cukup membuatku semangat. Persiapan fisik dan mental kulakukan dengan sepenuh hati.

Sesampainya di Cilacap aku langsung disambut oleh pak Bernat. Rpuanya dia sudah menungguku sedari pagi. Setelah beristirahat sejenak di ruang tamu, aku langsung disuruh masuk menemui pak Bernat yang memang sudah siap sedari tadi. Proses wawancara pun berlangsung. Beberapa pertanyaan diajukan pak Bernat. Dengan tanpa terpatah aku menjawab satu per satu pertanyaan yang dia ajukan.

Beberapa lama kemudian, aku keluar ruangan. Proses wawancara pun selesai. Aku disarankan untuk langsung medical cek atau tes kesehatan. Dengan diantar salah satu karyawan, aku menuju klinik yang letaknya tak jauh dari kantor.

Rupanya antrian sudah cukup ramai. Setelah mendaftar aku duduk di bangku antrian. Satu per satu peserta wawancara dipanggil, dan sepuluh menit kemudain tibalah giliranku. Aku masuk ruangan cek up dengan muka tegang dan jantung berdetak keras. Pasalnya ini adalah pengalaman pertamaku menjalani proses ini.

Serangkaian kegiatan medical cek pun aku jalani dengan cepat. Sampailah aku kembali menuju kantor. Aku kembali menghadap pak Bernat Watimena. Katanya, karena proses sudah selesai aku disilakan pulang.

Selang beberapa hari, kembali lik Slamet memberitahuku bahwa aku lulus medical tes. Beliau menyarankan aku bersiap untuk membuat paspor. Mendengar semua itu aku sangat kegirangan. Begitu juga dengan kedua orang tuaku. Kebahagiannya tak bisa dilukiskan lagi.

Setelah tiba waktu yang ditentukan aku pun berangkat lagi ke cilacap. Kali ini aku tak lagi di antar lik Slamet. Kebetulan hari itu lik Slamet herus kondangaan ke Ciamis. Jadilah aku berangkat seorang diri. Dengan membawa surat kelengkapan yang dibutuhkan. Dengan membawa uang sebesar dua juta rupiah sebagai syarat untuk biaya pembuatan paspor dan biaya lain-lainnya.

Kali ini aku tak sendiri ketika sampai di kantor dan bertemu pak Bernat, ada beberapa orang juga yang akan membuat paspor. Status mereka sama sepertiku, sebagai calon tenaga kerja Indonesia. Aku sedikit mengobrol ringan dengan mereka diantara mereka.

Kami segera bersiap masuk ke mobil avanza warna putih milik pak Bernat untuk menuju kantor imigrasi Kabupaten Cilacap. Satu persatu dari kami dipanggil masuk. Aku hanya mengikuti apa yang pak Bernat pesankan. Tak banyak pertanyaan tak banyak waktu juga yang aku butuhkan untuk proses ini. Tak sampai setengah hari proses pembuatan  paspor  selesai dan paspor sudah jadi hari ini juga.


Komentar

  1. Selain sedikit perbaikan untuk salah ketik di awal penamaan tokoh atau lokasi, saya salut dengan tulisan Bapak yang rapi ini, semangat terus, Pak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR