Dua Tahun Saja Post 15
Post 15
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono
Keputusan Mr. Liem memindahkan aku, sungguh tak terduga sama sekali. Aku sangat kaget dengan keputusan tersebut, namun hal itu menjadi angin segar bagiku untuk mengobati rasa jenuh yang mulai hadir.
Pindah kerja ke pusat kota tidak pernah terbayang sebelumnya olehku. Entah apa alasan Mr. Liem memindahkan aku. Aku di pindahkan ke hotel Mandarin Pasific yang berada di pusat kota Kuala Lumpur. Pusat kota yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Siang itu juga Mr. Liem menyuruhku untuk pulang guna bersiap. Tanpa pikir lama aku langsung pulang tanpa harus melanjutkan pekerjaanku sebelumnya. Tak lupa aku berpamitan dengan rekan kerjaku saat itu. Mereka terlihat menahanku untuk pergi.
Sesampainya di Kongsi aku lihat Tono dan Salim sudah berada di sana. Rupanya mereka juga mendapat perintah yang sama denganku. Aku, Salim dan Tono dipindahkan ke Hotel Mandarin Pasific di Kuala Lumpur.
Kami segera berkemas. Beberapa baju dan barang pribadi kumasukkan ke dalam tas hitam yang kubawa dari kampung. Sejenak aku beristirahat sambil menunggu sore. Setelah semua selesai aku terus mandi dan bersiap untuk berangkat.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tujuh petang, aku beranjak keluar dari Kongsi. Kulihat Tono dan Salim sudah lebih dulu pergi. Lalu aku menyusul di belakangnya berjalan beriringan.
Beberapa teman ikut mengantar kami sampai depan pintu gerbang. Pekerja proyek pun sudah terlihat mulai pulang. Jalanan di depan Kongsi mulai ramai. Sesekali aku bersalaman dengan mereka yang kukenal. Sedikit pertanyaan terlontar dari mulut mereka. Aku hanya menjawabnya singkat saja.
Tak lama berselang sebuah taksi berwarna merah berhenti di tak jauh dari tempatku berdiri. Sopir taksi turun dan menghampiriku yang masih duduk berkumpul. Aku sedikit berbincang dengannya. Tak lama datanglah Mr. Liem menggunakan mobilnya. Dia memberi tahuku bahwa taksi itulah yang akan mengantarku menuju ke Kuala Lumpur. Setelah aku berpamitan aku segera menaiki taksi itu. Begitu juga dengan Tono dan Salim.
Taksi melaju perlahan meninggalkan teman-teman yang masih berkerumun. Kulihat sebagian dari mereka melambaikan tangan padaku. Rasa sedih ketika meninggalkan teman dan saudara kembali melanda. Memang tak terlalu jauh perpindahan itu namun kebersamaan yang sudah terjalin yang mesti kutinggalkan itu yang membuatku sedih.
Aku tak banyak bicara di dalam taksi. Aku hanya diam sambil sesekali menikmati pemandangan di luar sana. Seolah masih tak percaya dengan ini semua.
Inilah perjalanan hidup tak bisa ditebak walau terkadang begitu dekat.

Komentar
Posting Komentar