Dua Tahun Saja Post 8
Post 8
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono
Malam harinya, menjelang tidur, aku masih menatap
uang gaji pertama yang kuterima sore tadi. Lamat-lamat terbayang bagaimana
suasana hari itu. Hari yang penuh kisah bagiku.
Pagi itu matahari belum juga memancarkan
sinarnya. Aku
sudah bersiap diri. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Meski belum ada pembagian tugas
kerja, namun aku tetap optimis dapat melakukan yang terbaik. Aku bersiap
dengan semangat penuh walau badan masih terasa lesu.
Dari arah depan muncul sesosok manusia berjalan
dengan langkah tegap. Dia adalah Syamir, salah satu staf dari kontraktor. Dia menghampiriku
dan menyuruhku juga yang lain untuk segera berkumpul di kantin. Aku dan teman yang lain
pun mengikuti Syamir dari belakang.
Tak lama kemudian kami sampai di kantin. Kulihat sudah ada beberapa orang duduk
bersiap di sana. Di adalah Mr. Liem pemilik perusahaan kontraktor yang akan
mempekerjakan aku. Ia adalah pemilik dari Yuen Liem SDN. BHD,
perusahaan kontraktor yang akan menaungiku bekerja. Ini memang
bukan satu-satunya
kontraktor yang ada di proyek ini. Masih ada beberapa kontraktor lain yang ada.
Kontraktor ini adalah yang terbesar diantara yang lain.
Aku dan teman-teman segera duduk dan bersiap
mendengarkan pengarahan. Mr. Liem.
Mr. Liem pun mulai berbicara. Dia memperkenalkan
pegawainya satu persatu. Dia pun menjelaskan status kepegawaianku dan yang lain. Tak ketinggalan
juga dia menjelaskan tentang sistem potong gaji untuk membayar permit kerja.
Sebagai pekerja legal aku di wajibkan membayar permit kerja sebesar seribu ringgit.
Pembayaran itu akan diangsur setiap bulannya
sebanyak seratus ringgit. Ya, selama sepuluh bulan ke
depan gajiku akan selalu dipotong. Permit kerja ini hanya berlaku satu tahun
saja. Ini bisa di pakai sebagai dokumen perjalanan resmi.
Tak lama pembagian kerja pun di lakukan.
Satu persatu ditanya tentang keahlian yang dimiliki. Aku yang memang tak punya keahlian apa-apa hanya menjadi helper. Yang dalam bahasa kita bisa
disebut sebagai kuli atau biasa di sebut konsikong
biasa di sini menyebutnya. Dengan gaji sebesar 30 RM perhari belum termasuk lembur wajib
selama 2 jam.
Pembagian kerja pun selesai. Aku sudah mendapat
mandor atasan. Dia adalah Nadimul Ghani. Lelaki berpostur tinggi besar, seorang muslim
berkebangsaan Pakistan ini memperkenalkan dirinya dengan tegas dan cerdas.
Acara perkenalan pra kerja pun selesai. Selain
pembekalan dan perkenalan kami dibagi peralatan dapur untuk keperluan memasak. Kami semua
juga mendapatkan bekal saku sebesar tigapuluh ringgit Malaysia. Kami disarankan untuk segera
pulang ke asrama.
Rupanya hari itu kami belum mulai
bekerja.

Komentar
Posting Komentar