Dua Tahun Saja Post 4



Post 4

Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono

Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Mungkin pepatah itu sangatlah pas dengan apa yang kurasakan waktu itu. Hampir 2 bulan aku menunggu kepastian keberangkatan. Kepastian yang belum ada kabar membuatku sedikit gundah. Hanya tunggu, tunggu, dan tunggu jawaban yang kudengar acap kali kutanyakan kepastian itu.

Hingga pada awal bulan Desember aku mendapat kabar baik. Waktu pemberangkatan sudahlah di tentukan. Aku merasa senang dan lega akhirnya kepastian itu datang. Tepat di tanggal 5 Desember bertepatan dengan hari ke-23 di bulan Ramadhan, aku berangkat. Rasa senang bercampur sedih mendera hatiku. Betapa tidak kurang dari seminggu lagi lebaran, tapi aku harus pergi meninggalkan keluarga. Berat rasanya hati ini namun bagaimana lagi. Ini adalah yang kutunggu sejak setengah tahun lalu.

Sore itu menjadi sejarah betapa beratnya aku yang ingin menapak masa depan. Aku harus meninggalkan tempat kelahiran tercinta menjelang hari raya Idul Fitri. Sangat ironi memang, dimana banyak orang pulang untuk berkumpul keluarga, aku malah pergi meninggalkannya. Tapi apa boleh buat penantian panjangku menjadi tekad. Kedua orangtua juga sudah melepasku dengan ikhlas walau ada sedikit tangis mendera.

Dengan di antar lik Slamet aku berangkat sore itu. Beberapa saudara ikut melepas kepergianku. Kugendong ransel hitam berisi pakaian dan keperluan lainya di punggung. Aku menaiki motor bersama lik Slamet. Kami pun melaju meninggalkan keluarga dan rumahku untuk waktu ya tak bisa di tentukan.

Setelah satu jam lebih aku naik motor sampailah di kantor pak Bernat. Ternyata sudah ada beberapa orang yang sampai lebih dulu dari pada aku. Langsung saja aku bersalaman dengan mereka satu per satu. Aku pun sedikit mulai mengobrol dengan mereka. Tak lama lik Slamet pun berpamitan karena memang hari sudah semakin sore. Pak Bernat pun muncul dari dalam kantor bersama salah satu pegawainya. Aku disuruh masuk ke ruang tunggu karena memang ruang tamu sudah penuh dengan orang.

Sekitar jam delapan malam, aku dan 17 orang lainnya di berangkatkan ke Jakarta menggunakan bus dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Priuk. Sepanjang perjalanan aku tak banyak mengobrol dengan yang lain. Hampir satu malam lama perjalanan ke Jakarta, akhirnya menjelang pagi aku dan rombongan sampai di Tanjung Priuk.

Aku dan teman-teman seperjuangan langsung bergegas menuju ke tempat singgah sementara sambil beristirahat menunggu hari keberangkatan. Kami semua pun terlelap karena kecapekan. Sampai menjelang tengah hari kami semua harus kembali bersiap karena harus bertolak menuju pelabuhan. Kulihat sudah ada kapal besar bersandar di dermaga. Itulah Kapal Very Bukit Seguntang yang akan membawaku berlayar menuju Tanjung Pinang sebagai tempat transit pertama.

Komentar

  1. tak kira bakal naik pesawat terus langsung sampai ke ML via KL, wah ternyata perjalanan darat - laut .

    pasti capek itu..

    lanjutkan Pak

    BalasHapus
  2. Itu rencananya mau kemana? Sepertinya mau umroh?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR