Dua Tahun Saja Post 13






Post 13
Dua Tahun Saja
Oleh Joko Septiono

Pagi itu hari masih gelap matahari belum juga muncul. Terdengar suara adzan terdengar dari kejauhan. Kulihat Budi masih terlelap di atas kasurnya. Tak tega aku untuk membangunkannya. Lanjut kuberanjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.

Tak lama aku pun keluar dan segera berpakaian. Aku tunaikan kewajiban untuk bersujud dengan dua rakaat kepada Yang Khaliq. Terlarut aku dalam salat dan do'a. Tak berselang lama aku pun selesai. Mulai ku dengar satu persatu mulai terbangun.

Perlahan aku berjalan ke arah pintu depan dan membukanya. Aku tak berani bersuara keras. Pandanganku pun kembali menatap ke arah Budi yang masih juga lelap. Aku berharap dia segera bangun dan bersiap kerja.

Masih terbanyang di pikiranku peristiwa semalam. Aku berharap Budi sudah melupakannya dan memulai yang baru. Aku tau mungkin kata-kataku terlalu keras kepadanya. Mungkin dia akan marah padaku. Aku pun siap terima apapun itu.

Hari berlalu seperti biasa. Pagi hingga sore aku habiskan di tempat kerja. Kulihat Budi berjalan di hadapanku. Aku coba menyapa dan berkata ringan. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut Budi untukku. Mungkin dia benar-benar marah padaku. Pandangannya pun dialihkan jauh-jauh. Aku terdiam tak mau berpikir macam-macam.

Sepulang kerja kami kembali membaur dalam keakraban. Berbagi cerita dan canda sudah menjadi biasa. Namun belum kuberanikan diri membuka obrolan dengan Budi. Kami belum bertegur sapa meski sudah bersama. Saling berdiam tanpa ucap kata.

Menjelang malam yang semakin larut mata ini mulai mengantuk. Kubersiap untuk tidur. Dalam hati aku masih merasa bersalah atas kejadian malam itu. Wajar saja budi marah kepadaku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR