Ayah Jesi Membaca
Membaca Itu Penting
Selamat pagi, selamat hari Senin. Semangat awal bulan dan semangat gajian! 😀
Tulisan ini saya buat Jumat sore kemarin, tapi baru bisa saya posting kali ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Aamiin
📝
Sudah membaca apa pagi ini? Saya sudah membaca beberapa WA sejak pagi. Saya juga sudah membaca keadaan setiap hari. Dan yang paling penting, saya sudah membaca Al Qur'an dan mengaji bersama rekan kerja dan murobbi, alhamdulillah.
Membaca Al Qur'an itu penting. Bukan karena ianya adalah kitab suci untuk umat, tapi karena efek manfaat yang bisa dirasakan. Hati menjadi adem, pikiran tenang, hidup tidak nggringsang. Terlebih saat bisa menyelesaikan satu jus dalam satu hari, rasanya seperti menyelesaikan tantangan yang luar biasa membahagiakan.
Membaca keadaan, apakah itu penting? Jelas itu penting. Di tempat kerjaku mewajibkan semua pegawai untuk mengaji. Bahkan untuk bisa menerima kenaikan pangkat, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah mengaji. Mengaji yang tentu saja di dalamnya ada murajaah, membaca dan menghafal Al Qur'an sesuai tugas yang sudah dibagi.
Hubungannya dengan membaca keadaan apa? Jelasnya setiap akan mengaji saya harus sudah membereskan apa yang menjadi tugas utama pekerjaan. Saya akan pergi mengaji setelah keadaan beres dan melegakan.
Kadang membaca keadaan itu sulit dilakukan. Di satu sisi harus begini, di sisi lain harus begitu. Di sisi ini ada orang berkata begitu, di sisi lain ada perintah suruh begini. Sebagai pribadi yang berdedikasi, saya lakukan semampu saya selagi masih ada kekuatan dan saya bisa melakukannya.
Saya bukan orang yang suka buka suara untuk hal yang tidak semestinya. Apalagi jika itu bersifat rahasia. Anda bisa percayakan semua hal pada saya. Saya hanya bicara sesuai dengan porsi saya. Saya tidak ingin bertindak lebih, kecuali memang untuk kepentingan yang urgen dan bisa membawa manfaat. Saya memang pendiam. Cenderung membaca keadaan dengan cara saya.
Saya memang pendiam, tapi bukan berarti saya tidak bisa berbuat apa-apa. Nyatanya saya bisa menuliskan ini semua, tanpa perlu membuatnya menjadi panjang dan lebar. Cukup istri saya saja yang memanjang dan melebar, itu semua juga karena saya. Saya kan suaminya. Saya yang menyebabkan dia hamil, atas kehendak-Nya.
Saya yang mencintainya dengan segenap jiwa dan raga, sebab dialah manusia yang sejak awal percaya meski banyak yang meragukan. Saya yang bagi dia bukan apa-apa karena hanya tamatan SMA sementara dia sarjana. Baginya hal semacam itu tak menjadi hal yang bisa menentang cita-cita.
Saya membaca rasa cintanya sejak lama, bahkan sebelum saya benar-benar memutuskan bahwa dialah kekasih yang akan menjadi pendamping selamanya. Sampai sekarang pun saya masih setia membaca setiap tingkah cinta yang sudah membahana. Apalagi sudah ada puteri kecil yang luar biasa. Sungguh-sungguh dia itu seperti babon yang luar biasa juga. Sungguh-sungguh itu juga karena karunia-Nya yang tak terhingga.
Saya membaca setiap waprian yang datang menyapa setiap saat aku sela. Ini sebagai cara saya membaca keadaan agar saya tak ketinggalan berita. Seperti yang sudah saya lakukan untuk mengawali hari, ternyata ada yang umurnya genap hari ini.
Selamat berhari jadi ya adik ipar, happy waiting for your wedding. Semoga selalu sehat dan bahagia.
Semoga kita semua senantiasa semangat mengisi hari dengan kebaikan.
Semoga kita semua termasuk umat-Nya yang kelak mendapat ridho dan pertolongan dari Tuhan.
Mari sama-sama belajar membaca apapun karena membaca itu penting.

Yang penting juga membaca hati si dia. Wekaweka.
BalasHapusIqro..
BalasHapussudah jadi kewajiban dan kebutuhan ya, sebagaimana Allah perintahkan pada umatNya. Karena membaca bisa meningkatkan wawasan, empati dan pengetahuan. Termasuk membaca tanda-tanda dan kode-kode dari pasangan, hahaha.