Nulis Bareng Youthpress: Tugas Cerpen: "100 Juta" Oleh Joko Septiono



Hidup adalah perjuangan, mungkin itu sangat tepat dengan apa yang kujalani dalam hidup saat ini. Sebagai anak pertama dari 3 bersaudara aku harus bisa menjaga keutuhan dan keharmonisan hubungan kami sekeluarga. Tak terkecuali dengan kedua adikku yang memang masih belum cukup dewasa untuk berfikir tentang hal tersebut.

Kebahagian mereka adalah prioritas utama yang menjadikan semua bisa berjalan baik. Tak peduli bagaimana pun keadaanku sendiri. Membuat mereka senang dan bahagia itu rasanya sudah cukup menjadi kado terindah untukku. Juga senyum kedua orang tua yang pastinya selalu menjadi penyemangat dalam menjalani hari demi hari. 

Terlepas dari itu semua aku juga harus tetap fokus pada kehidupan sendiri. Sebagai dewasa muda yang beranjak menjadi orang dewasa sesungguhnya akan sangat wajar jika mulai berfikir tentang masa depan sendiri. Jodoh, karir dan kemandirian masih menjadi PR besar dalam hidupku saat ini.

Seperti pagi ini kala sang mentari belum juga muncul dari ufuk timur. Hawa dingin pedesaan masih menusuk sum-sum tulang. Embun pagi juga belum meninggalkan dedaunan yang masih tertidur. Aku sudah bersiap dengan jaket warna biru kesukaan yang melekat di badan. Juga sebuah helm bogo warna merah marun sudah terpasang lengkap di kepala.

"Cinta, kamu mau kemana sepagi ini kok udah siap-siap?" Tanya mamah sembari menyiapkan sarapan untuk kami semua.

"Mau ke kota Mah, ada yang perlu di urus di sana." Jawabku singkat

"Tapi apa harus sepagi ini?" Lanjut mamah.

"Iya mah biar gak kesiangan." Jelasku tegas.

Aku pun berlalu meninggalkan mamah yang masih sibuk menyiapkan sarapan untuk ayah dan kedua adikku. Terlihat sesekali ibu melirik kepadaku seolah ingin mencari tahu lebih dalam mengenai kepergianku pagi ini. 

Di bawakannya secangkir teh hangat manis kesukaanku. Aku pun meneguknya perlahan. Lumayanlah dapat menghangatkan perutku yang masih dingin.

Kukeluarkan motor Vario warna putih dan langsung, kunyalakan mesinnya lewat tombol start untuk memanaskannya. Gawa di dalam tas terdengar berdering. Terlihat wajah seseorang yang sudah kukenal 4 tahun lalu. Dialah Mas Lova orang yang mulai dekat dalam hidupku.

"Hallo... Assalamualaikum mas." Sapaku padanya.

"Wa'alaikum sallam gimana udah siap?" Jawab mas Lova.

"Iya ini sudah mau berangkat." Jelasku

"Baiklah sampai ketemu di sana nanti." Katanya menutup pembicaraan.

Aku menaiki motor dan melaju menembus kabut pagi yang mulai menipis. Lebih dari satu jam perjalanan pagi itu dan tibalah aku di tempat yang sudah menjadi tujuan. Kulihat Mas Lova sudah sampai terlebih dulu. Maklum anak cowok jadi naik motornya lebih cepat pikirku dalam hati.

Aku langsung menghampirinya yang tengah duduk di teras sebuah bank. Ya benar tujuanku pertama memang menuju bank milik pemerintah daerah. Aku berencana untuk mengambil tabunganku yang selama ini kusimpan di bank ini. Sebagai hasil kerjaku di luar negeri beberapa tahun belakangan.

Rupanya kami datang terlalu pagi. Terlihat pintunya sudah terbuka namun belum terlihat satu pegawai pun hadir. Baru terlihat satu pegawai kebersihan tengah membersihkan ruangan.

Aku mengajak Mas Lova untuk sarapan terlebih dahulu. Kami menghampiri tukang bubur ayam yang berada di pinggir jalan tepat di depan bank. Kami menikmati semangkuk bubur ayam untuk mengganjal perut yang sudah mulai lapar.

Tak kemudian terlihat kantor bank mulai buka. Aku segera menghampiri petugas bank yang mulai sibuk untuk mengambil nomer antrian. 

Alhamdulillah masih dapat antrian pertama, gumamku dalam hati.

Aku segera duduk di kursi tunggu untuk menunggu giliran. Tak lama akhirnya aku pun di panggil untuk maju ke depan. Beberapa saat aku berbincang dengan petugas dan sesekali menandatangani beberapa berkas yang diperlukan akhirnya aku selesai dan petugas menyodorkan setumpuk uang pecahan 50 ribuan sebesar 100 juta. 

Alhamdulillah satu langkah sudah terselesaikan kataku senang dalam hati sembari bibir ini tersenyum tipis.

Aku bergegas menghampiri Mas Lova yang masih duduk di bangku ruang tunggu. Mas Lova tersenyum melihatku sudah selesai dan melihat apa yang kubawa di tangan.

"Sudah Cinta?" Tanyanya riang.

"Sudah Mas." Jawabku bersemangat.

Tak lama kemudian aku dan mas Lova langsung menuju kantor Departemen Agama (Depag) yang tak jauh dari tempat kami berada. Kebetulan ini adalah hari Senin, aku berharap semua pegawai ada jadi urusan bisa cepat selesai.

Tak terasa waktu sudah cukup siang aku segera saja menemui pegawai kantor Depag yang bertugas saat itu. Memang sedikit menunggu karena ada antrian akhirnya tibalah giliranku. Tak berapa lama berbincang dengan petugas akhirnya aku mendapatkan apa yang dibutuhkan. Sebuah formulir pendaftaran haji dalam genggaman. Kubaca pela sambil kuisi sebagian data yang diperlukan. 

Merasa sudah cukup dan tak ada lagi hal yang harus kulakukan, aku dan Mas Lova segera pulang dengan senyum bahagia di wajah. Tampak rona bahagia terpancar dari wajahku dan wajahnya. Meski lelah letih karena harus mengantri namun semua itu terbayarlah sudah.

"Lega, ya Dik." Ucap Mas Lova tiba-tiba.

"Iya..." Jawabku bersemangat.

"Kapan-kapan boleh ya, Mas main ke rumahmu?"

DEG

Sesaat aku terdiam, dunia serasa terhenti. Sejurus kemudian entah kenapa aku mengangguk.

"Ya, sudah. Hati-hati di jalan pulang ya. Mas juga mau pulang. Ibuku sudah menunggu, suruh gantian jaga toko katanya....*

Kedua kalinya, aku hanya bisa mengangguk. Kami berpisah. Untuk bertemu lagi entah kapan. Sebelumnya kami hanya pernah dua kali bertemu setelah kepulangan pertamaku.

Aku melajukan kendaraan dengan hati-hati. Uang yang baru saja kuambil, kutaruh bagasi. Seperti pesan Mas Lova tadi.

Sesampainya di rumah langsung kuparkirkan sepeda motor di teras rumah yang mulai teduh. Rumah terlihat sepi, dan tak terdengar sedikit pun suara. Setelah kuucapkan salam namun tak ada jawaban aku bergegas masuk. Benar saja tak kudapati Mamah maupun yang lain berada di rumah.

Baru saja aku masuk kamar untuk mengganti pakaian yang mulai berbau menyengat, tiba-tiba terdengar suara mamah menyapaku dari arah depan.

"Sudah pulang kamu Cinta?" Tanya mamah.

"Iya sudah Mah..." Jawabku singkat saja.

"Memangnya sudah beres urusanmu?" Sambung mamah kemudian.

"Sudah Mah." Sahutku 

Mamah menghampiriku perlahan. Dibawakannya aku segelas air putih untuk menghilangkan dahaga karena hawa panas yang masih jelas terpancar.

"Ini di minum dulu, kamu pasti capek." Kata mamah sambil menyodorkan segelas air putih.

"Terimakasih Mah." Jawabku senang.

Setelah mengganti pakaian aku mengajak bapak dan mamah duduk santai di ruang tamu. Sembari tersenyum kecil, kugandeng tangan mamah yang terlihat mulai berkerut. Sambil bertanya heran mamah mengikuti dengan langkah sedikit berat.

Rupanya bapak sudah duduk bersandar sedari tadi di sofa tua yang mulai sobek di bagian bawahnya. Entah memang sudah tau atau tidak aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya sih belum tahu. Bapak juga memandangi penuh tanya.

"Ada apa ini kok kayak ada hal serius begini?" Tanya bapak padaku.

Kukeluarkan dua buah lembar formulir pendaftaran haji yang didapat dari kantor Depag tadi. Juga setumpukkan uang yang juga baru kuambil dari bank pagi tadi. 

"Apa ini cinta?" tanya mamah dengan sangat terkejut.

"Ini Mah, Pah, formulir pendaftaran haji buat Mamah sama Papah dan ini uangnya buat mendaftar." Jelas ku pada kedua orangtuaku.

"Terimakasih Cinta" ungkap mamah sedikit terharu.

"Ini uang dari mana?" Tanya Mamah.

"Ini uang tabunganku selama ini, semoga cukup untuk biaya Papah dan Mamah berangkat haji." Kataku menjelaskan.

Mamah memelukku erat sembari matanya berkaca-kaca. Serasa tak ingin melepaskan pelukannya mamah memelukku semakin erat. Tak terasa air mataku pun jatuh berurai tak tertahan lagi. Kami larut dalam tangis kebahagiaan.

Aku berharap mamah dan papah selalu sehat sehingga bisa datang ke Mekkah sebagai tamu Allah, harapku dalam hati.

"Mamah sehat sehat ya, Papah juga jaga kesehatan." Kataku menenangkan.

Kami pun kembali tersenyum bahagia sembari memperhatikan lembar demi lembar formulir dan mulai mengisinya.

***

Komentar

  1. Ikut terharu.
    Seperti cerpen dg pov satu pada umumnya jd msh dihujani kata ku maupun aku.

    Mf ayah jessi klo sy lancang ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Tahun Saja Post 5

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR

Tantangan Kedua: Ayah Jesi Bercerita