Ulasan
Lakon di ngodop.com
Cerpen berjudul: Ikan Harapan
Penulis Dyah Yuukita
Oleh Joko Septiono
Member Kelas Fiksi Odop Batch 7
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, selamat sore. Selamat menunggu malam minggu.
Izinkan saya memposting tulisan ini sebagai tugas pekan pertama di Kelas Fiksi. Kelas yang memang saya pilih sesuai dengan pilihan sejak awal ikut Ngodop Batch 7 dua bulan kemarin.
Baiklah, segera saja saya mulai.
-----
Begitu membaca paragraf pertama cerpen yang berjudul Ikan Harapan milik Mbak Dyah Yuukita ini saya langsung terbawa masuk dalam cerita ini. Paragrap pembuka yang sangat apik. Menarik pembaca untuk bisa larut masuk di dalamnya.
Kisah pilu dua anak yatim piatu yang berjuang hidup di kota besar, kota metropolitan. Harus berjibaku dengan waktu dan keadaan untuk terus bertahan hidup meski banyak halang rintang yang dihadapi.
Tema yang di sajikan cukup ringan namun sangat menarik. Tema sosial yang tertuang dalam cerita ini membuat saya yang baru pertama kali membacanya menjadi mewek. Hanyut dalam suasana di dalamnya. Meski saya termasuk ke dalam golongan laki-laki yang jarang mudah terbawa suasana. Tapi, sungguh saya dibuat melow oleh cerita pendek ini.
Cerita ini sarat akan pesan moral dan nilai-nilai luhur kehidupan. Bekerja keras, kasih sayang, kesederhanaan dan sikap kemanusiaan lain tersaji dengan ringan, mengalir dan mudah dipahami meski saya harus membaca berkali-kali agar menjadi mengerti apa maksud Mbak Dyah sebenarnya.
Penggunaan bahasa yang lugas mempertegas pesan moral yang ingin di sampaikan penulis. Juga penggunaan majas perumpamaan semakin memperjelas pesan yang tersirat di dalamnya.
Sebagai contoh pada kalimat "tenggorokanku kering seperti musim panas di bulan ini" hal ini sangat jelas menggambarkan keadaan tokohnya yang memang pekerja keras. Sampai-sampai minum saja tidak sempat.
Alur maju yang disajikan mempermudah pembaca untuk mengikuti jalan ceritanya. Mulai dari awal pengenalan tokoh yang di sana tertulis jelas dan terperinci.
Kemudian masuk pada pengenalan konflik. Dimana tokoh mulai mendapat perlakuan tidak baik dari pemilik rumah besar dan juga dari om gendut.
Hingga pada puncak konflik yang tersusun rapih. Dimana tokoh utama beserta adiknya mengalami penganiayaan oleh tokoh antagonis. Sungguh saya benar-benar dibuat geregetan secara tidak langsung. Saya ikut masuk ke dalam alur cerita, saya benar-benar membayangkan apa yang terjadi pada sang tokoh.
Cerpen ini ditutup dengan penyelesaian cukup singkat namun sangat bagus menurut saya. Sebagai orang yang awam dalam dunia fiksi, saya belajar banyak. Penutup yang menurut saya menggantung. Sehingga pembaca penasaran dan menebak nebak sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada tokoh utama.
Penggambaran tokohnya sangat jelas dan kuat. Menggambarkan sosok anak jalan dikota metropolitan yang begitu keras. Hidup dalam balutan sosial yang sangat kurang. Namun sisi penguasaan emosi tokoh utama yang cukup tertata.
Penguatan tokoh dalam cerita ini sangat kompleks. Dari tokoh utama yang hidup kekurangan namun di sisi lain ada tokoh antagonis yang berbalik keadaan.
Penulis benar benar ingin menonjolkan tokoh utama sebagai tokoh sentral dalam cerita ini. Tak banyak tokoh lain di dalamnya. Sehingga pembaca akan langsung fokus kepada tokoh utama.
Penggambaran waktu dan tempat pun tertulis dengan sangat jelas. Mempermudah pembacanya untuk bisa mengikuti alur yang di sajikan. Mulai dari waktu awal diceritakan sampai dengan akhir cerita sangat mudah di ikuti. Setting tempatnya pun sangat jelas tersirat di sana.
Cerpen yang sangat bagus dan dapat menginpirasi saya dalam membuat cerita. Dari segi pemilihan kata katanya sangat bagus dan mudah di pahami bagi saya yang pemula.
-----
Demikian ulasan saya mengenai cerpen Ikan Harapan yang ditulis oleh salah satu admin grup dan Pj di One Day One Post Batch 7 Kelas Fiksi ini dan ada di ngodop.com edisi bulan Juni 2019.
Salam kenal dari saya untuk semua pejuang Kelas Fiksi dan Kelas Non Fiksi, mohon maaf jika tulisan saya masih seadanya ya. Saya harus banyak belajar dari teman-teman semuanya.
Salam semangat dari 41 kilometer kota Cilacap Bercahaya.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dari Joko Septiono (Jose)
Ayah Jesi
Mengulas cerpen KaDit, ya~ Keren Pak Jose👍
BalasHapusSalam dari saya, Bu Josa 😅🙏
Salam kenal kembali bu Josa. Salam juga untuk suaminya ya
HapusWkwkwk ikut nimbrung ah. Saya juga Bu Jo, Pak.
HapusUlasannya lengkap ya
Salam kenal juga bu Jo, btw Joko siapa nama suaminya?
HapusWah, penasaran dengan cerpennya mba dyah
BalasHapusLangsung saja meluncur Kakak
HapusWahh, terima kasih sudah mengulas cerpen saya, Pak. Saya juga ikutan mewek 😅
BalasHapusCerpennya bener-bener bagus.
BalasHapusNgebaca tulisan ulasannya terbawa suasana sedih lagi.
#tetapkompak_timSapporo